Selamat marah.
Selamat marah-marah.
Selamat mengekspresikan kemarahan Anda, selamat menyadari kemarahan Anda, selamat merasakan kemarahan Anda. Luapkan saja, ya tumpahkan saja, luapkan secara visual, entah di dunia nyata entah dunia maya.. Anda benar sekali.. ya begitu menjengkelkan bukan orang-orang di sekitar Anda, keadaan Anda, kekecewaan Anda.
Anda beruntung sekali bisa marah-marah atau mengamuk semau Anda. Ya tentu benar sekali, Anda tak salah sama sekali, mereka-lah yang salah, mereka akan menyesalinya, menerima balasan dari kesalahan mereka.
Duduklah sejenak, tatap saya, tatap sekeliling Anda.
lihatlah. betapa banyak orang-orang sekitar kita YANG benar dan benar-benar seperti Anda, tentu mereka juga tak mau dianggap salah bukan? Perhatikan saja ekspresi mereka, seperti apa? Anda mampu melihat diri Anda sendiri tentunya, atau Anda tak semarah mereka itu? jadi Anda merasa jauh lebih baik dari mereka yang mengamuk-amuk nggak karuan itu? Ahahaha lucu bukan?
Lalu.. bagaimana jika seisi dunia hanya berisikan orang yang (merasa) benar saja?
Bagaimana yang satu tak mau disalahkan oleh yang lainnya, begitu pula sebaliknya? Menjengkelkan sekali tentunya, mereka itu kok semaunya sendiri sih, begitu batin Anda berkata. lantas, apa Anda pun tak merasa demikian? Anda juga semau Anda sendiri bukan. “Lha iya karep-karepku dewelah, mosok karepe wong akeh?!” Bahasa Jawanya begitu bukan? Ahahaha tertawalah sekarang, bagus.. Anda menertawakan diri Anda..
lho kenapa tidak? toh tertawa juga menyehatkan? Apa Anda terlalu malu menertawakan diri Anda sendiri? Lantas Anda tidak malukah jika ditertawakan jutaan mata yang melihat Anda marah-marah begitu?
Konyol, mana bisa saya marah terus disuruh tertawa..
ya juga sih, coba sekarang tertawakan orang-orang yang membuat Anda marah. ilustrasikan saja merek dg hal-hal yang paling memalukan, menjijikkan.. bisa?
oke, berhenti sejenak. Bagaimana perasaan Anda saat ini?
Masih marah? Wajar. Masih jengkel? Manusiawi.
Lantas apa yang akan Anda lakukan untuk membalas mereka? menyindir di sosmed, Silahkan. Nyinyirin langsung, ow ya harus dong.
Sekarang saya ingin mengajak Anda, memposisikan sebagai dia/mereka yang salah. Apa mungkin Anda yang di posisi dia sadar telah berbuat salah pada Anda. Yo jelas lah, wong dia yang bikin saya sebal (kembali ke posisi Anda). Kemudian, apa dia/Anda( di posisi dia) saat ini tahu kalau dia/Anda disebali oleh kesalahan dia yg mungkin tidak dia sadari?
Anda pasti dapat menduga semua jawabannya.
TIDAK.
Belum tentu orang yang membuat Anda marah menyadari telah membuat Anda marah. Lantas mengapa Anda marah pada orang dungu? Lucu bukan?
Sebesar apapun kemarahan Anda itu, boleh jadi hanya angin lalu bagi mereka, sedang Anda sudah meluap-luap emosinya, terforsir segala perhatian dan fokus Anda pada kemarahan Anda sendiri. Apakah Anda salah? Apakah kemudian (merasa ber-)salah?
Siapa yang berani menyalahkan Anda itu orang bodoh yang seharusnya bersalah.
Kenapa? karena ia mau-maunya mengurusi Anda. (*emot tertawa).
Lha tentu Anda tidak salah, KETIKA Anda berani menyadari kemarahan Anda.
Bagus! Ini peningkatan.. Anda meningkat penalaran Anda ketika Anda menyadari adanya emosi yang menghampiri Anda, dan Anda tentu sangat berbaik hati sehingga Emosi itu Anda jamu dengan sangat baik, dan menjadi TUAN bagi diri Anda sendiri.
Selamat ya, Selamat atas Keramahan akan Kemarahan Anda. *hehehe
