Ada pepatah kuno mengatakan, besarnya kesenangan akan berganti dengan besarnya kesedihan, begitupun sebaliknya.
Orang tua jaman duluakan selalu memperingatkan untuk tidak terlalu bercanda, tertawa terbahak-bahak, karena nanti setelahnya dikhawatirkan tangis menyertainya.
Ternyata bukan masalah bercandanya ataupun tertawanya. Tapi tentang kontrol atau kendali. Artinya ketika kita berada diluar nalar, di luar sadar, di luar kendali, apapun pasti tak terkendali.
Jadi senang ya senang aja, sedih ya sedih aja. Bukan berarti kita dilarang senang atau gembira yang justru mengindikasikan rendahnya level kebahagiaan, dan juga dilarang sedih sehingga yang ada malah depresi.
Silakan luapkan rasanya, nggak ada yang melarang. Tapi ingat kendalinya hanya satu, selalu ingat Tuhan. Bahwa segala sesuatu baik itu menyenangkan menyedihkan segalanya berjalan sesuai kehendak-Nya. Kita hanya menjalani sesuai takdir dan garis hidup kita, kita selalu punya bonus dari hal tersebut yaitu tidak lain dengan menikmati rasanya. Tuhan begitu Maha Baik-Nya, kekuatan rasa itu benar-benar super power. Mampu membuat kita bangun, berdiri, menjulang tinggi bahkan jatuh.
Lalu bagaimana kita mengendalikan rasa senang maupun rasa sedih..
Mudah saja, analogikan seperti volume musik, kita bisa mengatur keras lirihnya, ketika dirasa suara itu sudah tak nyaman kita bisa menurunkannya, tp ketika kita terlalu sedih lirih kita bisa menaikkan volumenya perlahan, menggugah semangat bahagia kembali, atau jika tak efektif bagi Anda, tentu Anda sangat diperbolehkan menggonta-ganti channelnya, dimana itu sesuai dengan Anda saat ini.
Kita terlalu takut, ketika hari ini sangat bahagia atau menyenangkan besok mungkin berduka. Kita membayangkan yang tidak-tidak.
No! Bukan begitu..
Urusan besok adalah urusan Tuhan, hari ini adalah urusan kita, maksimalkan hari ini, saat ini, masa kini. Kerena kita hidup di masa kini, bukan masa depan atau bahkan masa lalu. Percaya Tuhan Maha Baik, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ia selalu tahu apa yang terbaik untuk setiap makhluknya.
Ada masa dimana kita mengadu, mengeluh, kenapa aku mengalami hal ini? Kenapa harus aku..
Jawaban utamanya adalah Kamu Layak! Kamu layak bersedih, coba pikirkan. Kenapa kamu haru layak menerimanya? Bukankah Tuhan sudah memberi akal dan pikiran?
Gunakanlah, manfaatkanlah apa yang Tuhan berikan?
Sebenarnya apa yg ingin Tuhan sampaikan melalui peristiwa itu, melalu kesedihan itu?
Kalo kita sedih saja kita terpaksa berpikir kritis, tapi bagaimana ketika kita gembira? Ya, tentu saja gembirapun punya makna. Mari menarik garis dari keduanya..
