Self Determination

Pengukuhan diri menjadi fokus utama akan kebutuhan primer setiap individu dalam aspek spiritual. Pelajaran menjadi harga mahal untuk sebuah perjalanan, tentunya perjalanan kehidupan. Bingkisan moment-moment terpatri dalam sanubari insani yang memberi arti betapa kita menghargai diri, menghargai arti hadir sebuah jelmaan tak berwujud berupa kenangan. Dan kenangan tersebut yang menguji sejauh mana posisi kita kini dan nanti dari berbagai masa yang terlampaui. Perlu diketahui bahwa kejadian eksternal nantinya akan meningkatkan cara berpikir jika terdapat akumulasi sebuah syarat, dan syarat penting itu adalah kemampuan untuk menarik argumen tentang adanya pelajaran hidup yang perlu ditelaah dan dipetik sebagai sebuah koreksi (Vashdev, 2012).

Determinasi Diri bercerita tentang kewenangan manusia untuk menetapkan sendiri nasibnya saat ini dan nanti.  Penetapan nasib tak serta merta berjalan mulus, memperoleh tantangan adalah hal wajar. Bukan hanya kita saja yang mengalami krisis dan kemudian berupaya mencapai puncak tujuan. Orang-orang sukses menjalani fase ini sehingga mampu berpetuah untuk tidak pernah berhenti memperjuangkan nasibnya, impiannya, masa depannya. meskipun demikian kegagalan itu pasti, tapi berusaha mengatasi kegagalan tersebut ke depannya adalah langkah yang harus dilalui. jika tidak maka tiada perubahan dengan nasibmu. Gagal, coba cara lain, coba lewat atas, melompat, memutar atau bahkan mendobraknya (menembusnya), asal tak pernah putus asa, akan selalu ada jalan (Canfield dan Switzer, 2008).

Dalam sebuah buku yang penuh warna yang dikisahkan oleh Rustan (2012) konon setiap katak terlahir dari tempurung warisan nenek moyang, ia tumbuh dan besar di dalamnya. Tempurung yang menjadikannya nyaman dan aman, karena semakin hari semakin tebal dan keras. Ia berlindung dari segala macam marabahaya dalam tempurung itu, padahal sejatinya tempurung tersebut terbentuk dari cap, stempel dan nilai dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang paling dicintainya, ya.. semua orang yang berada dalam jangkauannya. Namun sayangnya di dalam tempurung tersebut amat sangat gelap gulita, namun apa mau dikata, katak itu nyaman-nyaman saja. Satu-satunya suara yang mampu didengar adalah pan. tulan suara dirinya sendiri, bau yang tercium adalah baunya sendiri, pikiran yang mengitarinya ya pikirannya sendiri. Jika bukan katak dalam tempurung tersebut, melainkan Anda, maka apa yang akan anda lakukan?
Anda bisa memilih dua opsi di bawah ini:

  1. Tetap berada tempurung, yang bagi anda adalah benteng dimana anda merasa nyaman, aman dan tak perlu merasakan kekhawatiran apapun, sampai AKHIR HIDUP Anda.
  2. Mendobrak berulang-ulang kali, meski harus berulang-ulang kali gagal juga, hingga anda lelah dan menyerah.

Anda dapat memilih satu atau bahkan dua2nya tapi terpikirkah oleh Anda, bahwa Anda adalah katak, apa yang mampu katak lakukan?

MELOMPAT,

ya! melompat setinggi mungkin untuk keluar dari tempurungmu yang gelap dan akhiri kesendirianmu, Mulailah HIDUP BARU yang lebih menyenangkan dan menggairahkan.

 

REFERENSI

Canfield, J. and Switzer, J., 2008, The Success Prinsiple, PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Rustan, S., 2012, Mari Berhitung Sisa Hidupmu, PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Vashdev, G., 2012, Happiness Inside, PT Mizan Publika : Jakarta Selatan

One Reply to “Self Determination”

  1. kadang memang gak papa gagal memenuhi impian, karena memang bukan itu yang terbaik buat kita – namun esensi nya tetap sama….

Leave a Reply to aep Cancel reply

Your email address will not be published.